SEJARAH ASAL MULA PADI DI POSER ( WAE LAWAS ) KEC. LAMBA LEDA UTARA, KAB. MANGGARAI TIMUR. NTT

Marten Tambang



 
Foto pribadi penulis
MAKSIMUS SERGIS SANTI, S.PD


ASAL MULA PADI DI POSER (WAE LAWAS) KEC. LAMBA LEDA UTARA, KAB. MANGGARAI TIMUR. NTT

  Dahulu kala di poser tinggala seorang manusia yang bernama Arab (nama manusia) datang dari minangkabau Sumatra Barat untuk mengembara, dalam perjalanannya dia singga di gowa, Sulawesi selatan (sekarang kabupaten gowa) setelah beberapa hari disana, dia melanjutkan perjalananya yang dibawah oleh Wulu Welek (sejenis balon udara) dan terdampar di golo munga. Iapun menetap di sana bertahun-tahun. selama berada disana, ia hanya memakan buah arah serta melakukan beberapa aktifitas seperti  pante tuak (Aren), Teong (alat penampung) yang digunakan untuk menampung tuak tesebut dari betong darat yang disebut (timbu).

 Sebulan kemudian, Darat Golo Munga yang bernama Panggemana mulai mencium bau tuak (Nira), karena penasaran minum tuak (Nira)  Panggemana menyuruh anak perempuannya yang bernama Se’nang, untuk meminta tuak (air Nira) yang dipante sama Arab. 

  Sesampainya Se'enang di sana, dia memangil Arab (nama Manusia) oe Kuon ( memanggil dalam bahasa Darat (bidadari) yang artinya Kraeng. Se’nang menemukan Arab sementara pante tuak. Saat itu Arab tidak mengenakan baju dan celana. Arab pun menjawab, “jangan mendekat” saya tidak memakai baju dan celana, Se’nang mengatakan bahwa saya ada perlu penting denganmu, lalu Arab menjawab apa maksudmu datang kemari? Tanya Arab! saya disuruh Ayahku Panggemana untuk meminta tuak (air nira) yang engkau pante!  Arab menjawab kalau kamu perlu tuak (Nira) saya akan menaruhnya di bawah pohon Aren. tetapi syaratnya setelah saya pergi jauh dulu baru kamu boleh mengambilnya, sebab saya tidak memakai baju dan celana jelasNya.  Selesai pante tuak Arab pun menaruhnya tepat di bawah pohon Aren. Lalu Se’nang mengambilnya dan membawa pulang tuak yang dipante arab tadi. Se’nang berjanji akan datang kembali esok hari untuk membawa baju dan celana buat Arab.

 Keesokan harinya Arab kembali pergi pante tuak sesampainya disana ternyata Se,nang sudah lebih dahulu datang dipohon Aren dan menaruh baju yang dibawanya.  Setelah mengenakan baju yang di bawah oleh se’nang, Arab pun mempersilahkan Se'nang mendekat dengannya dan memberikan tuak yang dipantenya lalu Se'nang pun  membawa pulang tuak yang di pante Arab ke rumahnya di golo munga tak lupa Se'nang mengajak  Arab untuk ikut dengannya ke golo munga. Sampailah di rumah Pangggema ayah Se'nang di golo munga, Panggemana mengizinkan mereka menikah lalu menikalah Arab dan Se'nang.

  beberapa bulan kemudian setelah Se'nang menikah tibalah saatnya musim Tanam. Orang tua Se’nang (darat) menyuru mereka untuk tinggal berpisah dengan merka di golo munga, lalu Arab dan Se'nang memilih tinggal di poser.

  Setelah sekian lama mereka tinggal di poser merekapun dikaruniahi dua orang anak satu laki-laki satu perempuan. Kedua anaknya diberi nama yang sulung bernama Bidi dan yang bungsu bernama Ngkiri. setiap hari mereka hanya makan buah Ara, karena sudah terlalu susah mencari makan.

pada suatu hari Panggema menyuruh mereka untuk membuka kebun dan mereka memilih Bea Mbau sebagai lahan pertanian mereka pertama, setelah selesai di tebas! Arab pun membakar lahan pertanian mereka, lalu pergi lagi ke mertuanya di golo Munga untuk menanyakan benih yang akan ditanam dilahan yang sudah siap ditanam.  Panggemana mertuanya Arab menyuruh mereka untuk pergi di anak rona ULU di tiwu cewe (sebelah selatan kampung bawe).

  Setelah pulang dari tiwu cewe, Pamannya memberi ketupat untuk dimakan saat perjalanan pulang ke poser. Tak lula pamanya juga berpesan  kepada arab, saat  istrinya pergi buang hajat. Pesan paman “sampai disana engkau harus  sembelih anakmu Ngkiri lalu engkau harus mencari tali pacok untuk mengikatnya. setelah itu ambilah daun lawir rata lalu engkau membunuh anakmu dengan alaskan pakai kayu teno, jika anakmu sudah mati, engkau harus memotong dagingnya  kecil-kecil lalu menyiram di seluruh area kebunmu itu. apabila ada tanaman yang tidak tumbuh di area kebunmu itu jangan kau makan. Terjemahan manggarai“(kawe lau wase pacok kudut cawi hia,poli hitu emi lau saung lawir rata eme mbele hia, alasn lau ga pake haju teno, Eme poli mbele lau anak dau ngkiri, wecak lau sanggen nakeng dia one uma dau hitu,eme apa ata te todo one uma dau hitu asi hangn lau, (mawa dau hituk,)”. Setela di beri pesan oleh pamanya Lalu Arab melanjutkan perjalananya ke poser.

 Setibanya di Poser Arab menyuruh istrinya mengambil air di wejang kala (sebelah barat kampung wae ruek) dan ternyata suaminya membuat lubang kecil dibawah pantat timpo yang di bawahnya. Setelah istrinya lama di wejang kala, Arab segera membawa Ngkiri ke area pertaniannya. Sampai disana dia membuat seperti yang telah diperintahkan oleh Pamannya (Amangnya) dari tiwu cewe, Arab pun memulai aksinya dengan mengikat anaknya Ngkiri menggunakan tali pacok, dan mengambil daun lawir rata untuk menyembelih anaknya itu dan mengalasnya pakai kayu teno. seusai di sembelih dia menyiram seluruh daging Ngkiri di seluruh areal perkebunanya. setelah semuanya selesai di kerjakan diapun kembali ke poser dan ternyata istrinya sudah lebih dulu dirumah sedang mencari Ngkiri kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

  beberapa bulan berlalu Ngkiri pun tidak ditemukan, lalu pada suatu hari Arab membawa istrinya ke bea mbau untuk melihat kebunya tadi. sampai disana betapa kagetnya Arab dan istri saat melihat seluruh areal perkebunan mereka di penuhi tanaman  sesuai dengan janji dari Pamannya di tiwu cewe. pesan Paman bahwa nama tanaman itu nantinya kau beri nama woja, (padi yang kita makan sekarang) itu daging Ngkiri anak mereka yang berubah menjadi padi.

  Arab segera memberitahukan Se’nang istrinya bahwa sebenarnya woja ini adalah anak kita Ngkiri yang saya sembelih dulu, Sekarang beruba menjadi padi (woja). mendengar penjelasan Arab! Se'nang langsung menangis tersedu-sedu sambil memeluk padi dikebunnya itu.

  Waktu itu hanya satu tanaman yang tidak tumbuh di areal pertanian mereka yaitu  Jagung (latung). Tetapi padi yang tumbu disana  bermacam-macam jenisnya. diantaranya: woja longko (woja laka) warnanya merah. konon menurut pamanya dari tiwu cewe bahwa woja itu adalah darah dari Ngkiri, woja Rakot (woja ini terkenal dengan daotnya itulah otak Ngkiri. sedangkan woja yang berwarna putih adalah daging Ngkiri. mulai saat itu keturunan Arab tidak pernah makan jagung, sampai sekarang ini.

Sejak saat itu mereka tidak kekurangan nasi untuk dimakan bahkan padi yang mereka tuai tidak ada habisnya.

 Itulah  cerita Tana Dani (dalam bahasa manggrai) sedangkan Tanah Rani (dalam bahasa darat). dimana dahulu kalau ada yang melanggar perjanjian antara manusia dan darat.  darat itulah yang bertindak. 

Demikian sejarah dari Tana Dani/Tana Rani. Semoga bermanfaat.

Selamat membaca membaca!

 OLEH MAKSIMUS SERGIS SANTI 
            11 maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA KUPU-KUPU DAN KERA DI WAE BAJAR, POSER!

WAE RI,I FC MELAJU DENGAN SEMPURNA KE BABAK 8 BESAR..